Samarinda, 10 Oktober 2026 – Fakultas Pertanian Universitas Mulawarman menyelenggarakan Webinar Series #13 dengan tema “Membangun Pertanian Tangguh dalam Menghadapi El Nino, Kekeringan, dan Perubahan Iklim”. Kegiatan ini membahas berbagai tantangan iklim ekstrem terhadap sektor pertanian sekaligus pendekatan yang dapat diterapkan untuk menjaga produktivitas, ketersediaan air, dan keberlanjutan usaha tani.
Webinar dilaksanakan secara daring melalui Zoom Meeting dan disiarkan melalui kanal YouTube. Kegiatan ini diikuti oleh 439 peserta yang terdiri atas mahasiswa, dosen, peneliti, praktisi, serta masyarakat umum. Antusiasme peserta tersebut menunjukkan besarnya perhatian terhadap dampak El Nino, kekeringan, dan perubahan iklim bagi sektor pertanian, serta pentingnya penerapan strategi pengelolaan pertanian yang lebih adaptif dan berkelanjutan.

Rangkaian kegiatan diawali dengan laporan Ketua Panitia, Ir. Muhammad Saleh, M.Si., kemudian dibuka secara resmi oleh Dekan Fakultas Pertanian Universitas Mulawarman, Dr. Ir. H. Fahrunsyah, M.P. Webinar ini menjadi ruang pertukaran pengetahuan dan pengalaman antara kalangan akademisi, pengelola sumber daya air, petani, serta masyarakat untuk memperkuat pemahaman dalam menghadapi risiko perubahan iklim terhadap sektor pertanian.


Tiga Perspektif untuk Membangun Pertanian Tangguh
Diskusi dipandu oleh R.M. Nurhartanto, S.P., M.Si. selaku moderator. Webinar menghadirkan tiga narasumber yang menyampaikan perspektif berbeda tetapi saling melengkapi, meliputi pendekatan ekologis dalam membangun pertanian tangguh, pengelolaan sumber daya air untuk menghadapi kekeringan dan perubahan iklim, serta pengalaman langsung petani dalam menghadapi perubahan kondisi di lapangan.


Dokumentasi peserta Webinar Series #13 Fakultas Pertanian Universitas Mulawarman.

Pendekatan Ekologis untuk Pertanian Berkelanjutan
Narasumber pertama, Prof. Dr. Ir. Zulkarnain, M.S., Guru Besar Jurusan Agroekoteknologi Universitas Mulawarman, menyampaikan materi berjudul “Membangun Pertanian Tangguh dan Berkelanjutan: Paradigma Ekologis Ekosistem dalam Menghadapi Iklim Ekstrem”.
Dalam pemaparannya, pendekatan ekologis menempatkan ekosistem sebagai dasar pengelolaan pertanian. Ketangguhan sistem pertanian perlu dibangun melalui pemahaman terhadap keterkaitan antara tanah, air, tanaman, organisme, dan kondisi iklim agar kegiatan produksi mampu beradaptasi terhadap tekanan iklim ekstrem.
Pengelolaan pertanian yang memperhatikan daya dukung lingkungan menjadi salah satu langkah penting untuk menjaga produktivitas dalam jangka panjang. Upaya menjaga kesehatan tanah, meningkatkan efisiensi penggunaan air, mempertahankan keanekaragaman hayati, serta menerapkan teknik budidaya yang sesuai dengan kondisi setempat merupakan bagian dari strategi pertanian yang berkelanjutan.

Pengelolaan Sumber Daya Air Menghadapi Kekeringan
Narasumber kedua, Lina Dwi Damayanti, S.T., M.T., dari Balai Wilayah Sungai Kalimantan IV Samarinda, menyampaikan materi “Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mendukung Pertanian dalam Menghadapi Kekeringan dan Perubahan Iklim”.
Materi tersebut menekankan pentingnya perencanaan dan pengelolaan sumber daya air untuk mengurangi risiko kekurangan air pada sektor pertanian. Ketersediaan air perlu dikelola dengan mempertimbangkan kondisi wilayah, pola musim, kebutuhan tanaman, serta dinamika perubahan iklim yang dapat memengaruhi keberlangsungan kegiatan budidaya.
Koordinasi antarpihak diperlukan agar pemanfaatan sumber daya air berlangsung secara efektif dan berkelanjutan. Selain itu, informasi mengenai kondisi sumber air dan prakiraan iklim dapat dimanfaatkan untuk menentukan langkah antisipasi serta mendukung pengambilan keputusan yang lebih tepat ketika menghadapi periode kekeringan.

Pengalaman Petani sebagai Dasar Adaptasi di Lapangan
Perspektif dari tingkat usaha tani disampaikan oleh Sardani, petani dari Kabupaten Paser. Melalui testimoninya, Sardani membagikan gambaran pengalaman petani dalam menghadapi perubahan kondisi musim dan keterbatasan air di lapangan.
Pengalaman petani menjadi bagian penting dalam merumuskan langkah adaptasi yang sesuai dengan kebutuhan nyata di lapangan. Kebijakan, penerapan teknologi, dan program pendampingan perlu mempertimbangkan kondisi wilayah serta karakteristik komoditas yang dibudidayakan agar dapat memberikan manfaat secara langsung bagi pelaku usaha tani.
Akses terhadap informasi iklim, dukungan pengelolaan air, dan komunikasi berkelanjutan antara petani, pemerintah, serta perguruan tinggi juga diperlukan untuk membantu petani mempersiapkan langkah yang sesuai dengan kondisi lingkungan dan tantangan yang dihadapi.

Sesi penyampaian materi oleh para narasumber Webinar Series #13.
Memperkuat Kolaborasi untuk Pertanian Adaptif
Melalui pemaparan materi dan sesi diskusi, peserta memperoleh gambaran mengenai keterkaitan antara pengelolaan ekosistem, ketersediaan sumber daya air, dan pengalaman petani dalam membangun sistem pertanian yang tangguh. Ketiga aspek tersebut perlu dipertimbangkan secara terpadu dalam merencanakan langkah antisipasi terhadap El Nino, kekeringan, dan perubahan iklim.
Webinar Series #13 diharapkan dapat memperkuat pemahaman peserta mengenai pentingnya pertanian adaptif sekaligus mendorong kolaborasi antara perguruan tinggi, pemerintah, pengelola sumber daya air, dan petani. Sinergi antara pengetahuan ilmiah dan pengalaman lapangan menjadi modal penting dalam merumuskan strategi yang sesuai dengan kondisi pertanian, khususnya di Kalimantan Timur.
Melalui kegiatan edukatif dan diskusi ilmiah seperti ini, Fakultas Pertanian Universitas Mulawarman terus mendorong pengembangan pengetahuan dan praktik pertanian yang responsif terhadap tantangan lingkungan, berorientasi pada keberlanjutan, serta mendukung ketahanan pangan di masa mendatang.
